Penulis merasa geram dengan tingkah laku para civitas akademika beberapa hari belakangan ini. Tulisan yang dibuat bukan untuk memprovokasi anda sebagai pembaca, namun lebih sebagai sebuah kontemplasi bersama akan gagalnya para educated people dalam menjaga almameter masing-masing institusi dan menjalankan perannya sebagai agent of change. Bukan hanya dalam ruang lingkup universitas, dua hari yang lalu, tepatnya salah satu sekolah SMA negeri di Jakarta, aparat keamanan terpaksa merazia para murid yang dicurigai membawa benda tajam dan sejenisnya dalam tas mereka, hasilnya sungguh mencengangkan, banyak siswa yang membawa benda haram tersebut disekolah dengan niat tawuran.
Di negeri ini, kalau boleh kita menspesifikasi, tawuran bukan hanya dikalangan kaum pelajar, ditingkat atas pun (pemerintah) sering memberikan contoh serupa meski tak sama, para petinggi kita lebih cenderung mengarah kepada kekerasan verbal, bisa dalam bentuk cekcok di gedung DPR, orasi kampanye yang menghujat dan memfitnah para Caleg satu sama lain, dan sebagainya, bukankah mereka juga orang-orang yang pandai dan terpelajar…?
Kekerasan dan tawuran yang terjadi antara UKI (Universitas Kristen Indonesia) dan YAI (Yayasan Administrasi Indonesia), Unhas Makassar, dan berbagai kampus di Indonesia belakangan ini, merupakan bukti nyata akan kegagalan pendidikan kita dalam merubah sikap dan tingkah laku para peserta didik. Makna pendidikan sendiri bertujuan untuk merubah attitude seseorang kearah yang lebih baik setelah mengenyamnya. Dalam kasus ini, semua pihak turut bertanggung jawab dan harus beri’tikad baik untuk mengakhiri catatan buram ini.
Ada beberapa faktor pemicu mengapa para mahasiswa mudah tersulut emosinya. Di beberapa kasus, penulis mendapati faktor sepelelah yang menimbulkan bentrokan massal ini, mulai dari masalah cewek, pembelaan sesama teman (solidaritas), hingga berawal dari ejek-ejekan antar almamater, sungguh ironis memang. Disisi lain, kasus amuk mahasiswa yang terjadi di Makassar juga karena pihak Rektorat tidak transparan dalam membelanjakan dana universitas, tak pelak, mahasiswa pun membabi buta dengan menghancurkan segala fasilitas kampus.
Kompleksitas problematika ditengah masyarakat sekarang ini, juga turut berperan serta dalam merubah perilaku kita, sebagian orang telah menjadi Homo Homini Lupus (manusia telah menjadi serigala bagi manusia lainnya), banyak orang yang telah kehilangan hati nuraninya. Mahasiswa, atau siapapun yang mendapatkan pendidikan, tidak selayaknya mempraktekkan tingkah laku Barbarian ini. Jangan sampai kita menambah masalah ditengah berbagai permasalahan yang dihadapi negeri ini.
Sebagai akhir catatan ringan ini, kekerasan dan emosi bukanlah merupakan problem solver yang sejati. Namun akal sehat serta kesadaran dirilah (self-awareness) yang harus kita kedepankan dalam menghadapi suatu permasalahan. Mari kita wujudkan slogan mahasiswa sebagai “agent of change” sebagai mainstream perubahan yang fundamental dinegeri yang tercinta ini.
Wallaahu’alam.
Malang, 19-Nov-2008.
Siiiiiiiiip