Refleksi PEMILU

21 04 2009

Pemilu Legislative telah usai sekitar 2 minggu yang lalu. Ada yang kalah dan menang, ada yang puas dan kecewa dengan hasil yang dicapai, sang pemenang berpesta, sang pecundang pun menjadi pesakitan.
Yang demikian adalah sesuatu yang lumrah. Namun tidak lumrah bila ada Caleg yang sakit jiwa alias stress. Apakah Pileg ini menjadi ajang pertaruhan hidup matinya di dunia ini? Kok sampai gila ? Ada pula caleg gagal yang menarik semua sumbangannya dimasyarakat, kasus in bukan hanya satu, tapi banyak sekali. Sejenak kita berfikir ulang bahwa hajatan terbesar di negeri ini adalah memajukan bangsa Indonesia lebih baik, lebih dewasa dan demokratis mulai dari pelosok desa hingga perkotaan, tanpa terkecuali.
Masalah yang timbul setelah Pileg usai memang beragam, banyak kasus pelanggaran yang terjadi diberbagai daerah. Pihak yang kalah tanpa di komando pun pasti akan menuding KPU sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, mulai dari kasus DPT yang tidak valid, tertukarnya surat suara dengan daerah lain, hingga kotak suara yang terlambat didistribusikan.
Protes demikian sah-sah saja, namun harus ditanggapi dengan kepala dingin tanpa anarkisme dan tindakan provokatif yang memicu tindak kekerasan. Pihak yang kalah seharusnya lebih realistis dan legowo menerima kenyataan bahwa dia memang belum dapat amanah dari rakyat. Ingat, suara rakyat adalah suara Tuhan. Dan suara rakyat tidak bisa didapat dengan instant ketika anda (Caleg Instant) muncul secara tiba-tiba di spanduk dengan gaya anda yang narsis dan kinerja yang belum terbukti.
Kita juga harus ingat bahwa demokrasi di Indonesia sedang menemukan jati dirinya. Masyarakat kita pun semakin dewasa dan melek akan politik dan hukum. Janganlah mencederai singgasana demokrasi negeri ini melalui tindakan unfair kita dengan tindakan “tidak siap kalah” dengan berbagai macam cara yang dihalalkan seperti “serangan fajar”, pengarahan pemilih dari panitia Pemilu untuk menyontreng Caleg tertentu, dsb.
Hal ini tentu saja telah mencederai nilai-nilai demokrasi. Tidak ada semacam kesadaran diri (self-awareness) tiap-tiap individu dalam menyikapi hasil Pileg yang pasti ada pihak yang kalah dan menang.
Sebagai masyarakat awam yang selalu mengharapkan perubahan terbaik, seyogyanya kita harus cermat dalam bertindak dan berifkir dalam menyikapi berbagai permasalahan dan perbedaan persepsi ditengah-tengah kita. Apapun event dan hajatannya, baik Pileg maupun Pilpres yng akan datang, adalah tanggung jawab kita bersama dalam menegakkan pemerintahan yang jujur, adil, bersih dan pro rakyat. Semoga.

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.